“Carbon Credit Sebagai Kelas Aset Baru: Volatilitas dan Korelasi dengan Saham Energi Terbarukan IDX“

KSEI FORKEIS UINAM
0

 

Oleh: Andi Jahnur Itsnaieni Kaffah, Sri Masdiana, Ayu Permata Sari

 

Perubahan iklim ternyata memberikan dampak pada lingkungan dan memberikan pengaruh terhadap kesadaran global akan pentingnya mengurangi emisi karbon pada seluruh sektor industri. Ini tentunya menjadi urgensi penerapan pada perubahan iklim yang efektif secara langsung akan mempengaruhi pengambilan keputusan pada kegiatan tersebut. melalui Conference of the parties-26 (COP 26) dari konverensi Kerangka kerja dari PBB memberikan kontribusi dalam sebuah perumusan kebijakan serta regulasi mengenai emisi karbon. Namun, sampai pada saat ini, pencapaian dalam pengurangan emisi karbon global masih jauh dari apa yang menjadi target yang telah di tetapkan sebelumnya, yaitu sekitar 314 juta ton CO2, sementara Indonesia sendiri masih baru berhasil mengurangi sebesar 29% dari target yang sudah ditentukan (Profitabilitas & Persepsi, 2025).

Melalui integrasi dalam penetapan harga karbon kedalam kerangka kebijakan yang sudah di usulkan, pemerintah bukan hanya sekedar bertanggung jawab terhadap lingkungan tetapi menciptakan lanskap kompetitif yang menghargai inovasi dalam teknologi hijau. Lebih jauh, pendekatan ini sejalan dengan upaya global untuk memberikan batasan kenaikan suhu pada hingga di bawah 2 drajat Celcius. Pemerintah Indonesia saat ini telah menerbitkan beberapa peraturan dalam membangun skema perdagangan karbon yang ada di Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) dibawah pengawasan OJK telah berupaya dalam mengembangkan sistem pertukaran karbon dengan memperkenalkan IDX Carbon. Jenis investasi ini akan mengakomodasi perdangan unit karbon, baik untuk emisi ataupun kredit karbon dengan infrastruktur perdagangan karbon yang beroprasi penuh di tempat bisnis dan pemerintah dapat memperdagangkan unit karbon. Peluncuran unit karbon ini merupakan langkah awal bagi Indonesia untuk menerapkan kebijakan berkelanjutan terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial suatu perusahaan (Markavia et al., 2022).

Perkembangan dalam perdagangan emisi karbon membentuk suatu tujuan yakni mengurangi emisi karbon yang dapat menyebabkan berbagai permasalahan nyang ada di lingkungan. Yang menarik pada salah satu instrumen investasi ini adalah harganya yang selalu mengalami fluktuasi naik-turun 6-8% dalam sehari. Menurut data dari IDX Carbon menunjukkan tingkat volatilitas tahunan sebesar 38,4% bahkan lebih tinggi dari IHSG (22%). Hal ini dipicu oleh beberapa penyebab salah satunya dari aspek hukum seperti lonjakan 45% pada maret 2025 terjadi setelah pemerintah mengumumkan cap emisi 2026 akan dipangkas 8% lebih ketat dan menegaskan resiko politik sebagai katalis utama (Ii & Pustaka, 2020).

Penyebab kedua adalah tipisnya likuiditas dimana Bid-ask spread rata-rata 7% (vs. 0,3% di saham LQ45) membuat harga rentan sulit mengalami pergerakan pada block trade 50.000 ton masuk. Selain itu, sentimen Iklim global memberikan dampak pada pergerakan harga IDXCarbon dimana ketika heat-wave Eropa 2024 memaksa pembangkit batu bara untuk kembali hidup dan beroprasi seperti biasa, harga EU-ETS mengalami peningkatkan yang tinggi dan bencmark itu menular hingga ke Jakarta (Investasi et al., 2024).

IDXCarbon memiliki korelasi pada saham terbarukan jika diukur dari jangka pendek memiliki peran safe heven dari saham ETR, pada jangka panjang keduanya bergerak sendiri-sendiri karena mengalami cash flow driver nya memiliki perbedaaan. Satu merupakan regulatory scarcity dan yang satu merupakan project earnings. Temuan ini tentu sejalan dengan studi yang dilakukan oleh AIMS press yang memberikan laporan terkait beta karbon terhadap indeks energi bersih sebesar -0,40 di Eropa. IDXCarbon memberikan implikasi pada portofolio dimana investor harus melakukan deversivikasi terhadap carbon credit sebesar 10% dalam mock-portofolio (Sari, 2024).

Carbon credit memang merupakan kelas aset terbaru yang menghadirkan imbal hasil yang tidak berkorelasi, tapi bukan juga holy grail. Volatilitas yang tinggi dan ketergantungannya pada sebuah kebijakan masih tergolong dalam kategori yang ekstrem dan likuiditasnya masih sangat rendah. 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default